; Bullying di Sekolah - SayaNaia

Bullying di Sekolah

Wah malam minggu nih, kalian sudah punya rencana mau kemana? Kalau saya sih di rumah aja deh (gak ada yang nanya juga sih ya 😅). Eh iya saya lagi merasa prihatin banget, ceritanya semalam itu saya iseng explore instagram, dan gak sengaja lihat ada video murid di salah satu SD Negeri Bandung yang sedang di-bully oleh teman-temannya. Mereka ini kelas 5, usianya mungkin sekitar 11-12 tahunan lah ya. Entah bagaimana awalnya si anak yang badannya kurus ini dikeroyok teman-teman seusianya dan gak ada satu pun yang berani menolong. Yang bikin saya gemes, itu temannya bukannya melapor ke guru malah merekam temannya yang lagi ditindas. 

Berdasarkan keterangan video, katanya mereka yang mem-bully ini adalah anak-anak dari keluarga kaya. Dan si korban akhirnya trauma dan belum berani masuk sekolah setelah kejadian itu (entah mungkin sudah terjadi berulang kali sampai si anak menjadi takut bertemu teman-temannya). Kebanyakan kasus bullying di sekolah terjadi ketika guru tidak ada di kelas, dan si anak tidak berani melapor. 


Saya jadi ingat ketika si kakak baru mulai sekolah di kelas 1 madrasah ibtidaiyah, beberapa kali dia merengek supaya dipindahkan ke sekolah lain. Awalnya dia gak mau bilang kenapa dia begitu 'ngotot' mau pindah sekolah. Rupanya di kelas ia sering jadi bahan ejekan teman-temannya karena badannya yang 'bongsor'. Pernah dia pulang dengan tulang pipi yang sedikit lebam, saya berusaha tanya tapi dia gak juga mau mengaku. Nah setelah 3 bulan bersekolah, saya kaget karena ada yang menulis 'babi' di sampul buku-buku pelajarannya. Sayangnya dia juga gak tahu (atau mungkin gak mau bilang) siapa pelakunya. 

Sampai suatu kali saya periksa tasnya dan ada kertas ulangan milik temannya yang ikut terbawa ke rumah. Saya cek nilainya sama, dan jawaban yang tertulis sama persis sampai ke titik komanya. Yang jadi masalah adalah si anak ini ternyata belum bisa membaca, dan anak ini kebetulan duduk di sebelah si kakak. Ya gak heran sih kalau ada tugas kelompok, ibu si anak tinggal terima beres, sementara ibu-ibu yang lain sibuk berdiskusi anak-anak mau belajar kelompok di mana.

Begitu pengambilan raport bayangan di tengah semester pertama, saya coba beranikan diri untuk ngobrol dengan wali kelas anak saya. Saya coba tanya apakah selama ini beliau tahu bahwa anak saya sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Saya juga tanyakan bagaimana perkembangan pelajaran si kakak di sekolah, apakah dia pernah menyontek ketika ulangan atau sekedar mengerjakan latihan soal di kelas. Wali kelas rupanya mengerti apa yang saya maksud, dan membeberkan soal anak yang suka menyontek jawaban ulangan si kakak. Dari beliau juga saya tahu kalau si anak tersebut belum mengerti apa yang diajarkan di sekolah. What?? 😒

Pulang dari sekolah saya coba tanya baik-baik ke si kakak, barulah ia mengaku bahwa selama ini anak tersebut memang suka menyontek, dan dia berani memukul kalau anak saya gak mau memberi jawabannya. Anak ini juga mengancam kalau dia akan mengajak teman-teman lain supaya gak mau berteman dengan si kakak kalau berani mengadu ke saya atau wali kelas. 😣 Kebayang gak? Anak umur 7 tahun bisa berbuat begitu? Gimana nanti kalau sudah besar? Beberapa kali si kakak juga hampir kena lemparan batu di jam istirahat setelah selesai sholat di mushola sekolah. Nah ini rupanya yang membuat anak saya selalu minta pindah ke sekolah lain.

Setelah kejadian ini, saya selalu bilang ke si kakak untuk berani bilang 'tidak' kalau ada orang yang berani mengancamnya. Saya berusaha meyakinkan kalau dia anak yang berani, berani melawan dan melapor jika ada kejadian yang tidak menyenangkan di sekolah. Ini bukan berarti saya menyuruhnya untuk berantem di sekolah ya, atau menjadi anak yang suka mengadu. Karena untuk kasus-kasus tertentu, anak harus diajari untuk lebih waspada. Saya juga memintanya untuk segera pergi kalau ada kemungkinan temannya ini mau mengancam atau memukulnya. Mudah-mudahan setelah ini dia jadi lebih berani untuk membela dirinya sendiri.


Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Booklover, Blogger yang tersesat megap-megap setelah multiply diberangus...

No comments for "Bullying di Sekolah"

Berlangganan via Email