; Perjuangan Pasca Melahirkan Kembar Part 2 - SayaNaia

Perjuangan Pasca Melahirkan Kembar Part 2

Sebelumnya saya cerita tentang pengalaman saya mengatasi baby blues setelah kehilangan mama. Alhamdulillah saya berhasil menyusui anak-anak tanpa bantuan sufor, tapi ternyata masalah saya belum selesai sampai disitu. Sepulangnya saya dan anak-anak dari rumah sakit, saya harus berhadapan dengan orang-orang yang berkomentar sarkas. Padahal suami saya sudah dengan susah payah mengembalikan semangat saya, menguatkan saya sampai akhirnya ASI bisa keluar dengan deras bahkan melimpah. 

Pertemuan saya dengan orang-orang ini karena kebetulan waktu itu di rumah ayah saya sedang mengadakan 7 harian mama. Dan orang-orang yang datang otomatis juga menengok saya. Kalau sebagian orang menyemangati dan terus mendo'akan agar saya kuat, ada beberapa orang (bahkan orang terdekat) yang berkomentar menyakitkan. Mereka bilang bahwa saya gak akan mampu mengurus si kembar dan Teduh tanpa bantuan mama. Banyak dari mereka yang menyarankan saya dan membujuk ayah saya supaya saya mau menyerahkan salah satu dari si kembar untuk diurus oleh keluarga lain!! Ayah saya marah, beliau pun gak habis pikir kenapa ada orang-orang yang begitu kasar memperlakukan saya. 

Saya diam, bahkan ada orang yang terang-terangan bilang bahwa si adek Rindu gak akan bertahan lama karena tubuhnya kurus, tulang berbalut kulit (saya selalu ingin menangis ketika mengingat ini). Ada pula yang berkomentar "Mama kamu meninggal, kamu dapat dua anak sekaligus, itulah pengganti mama kamu!" Saya melongo, kenapa ada orang yang mulutnya begini, lidahnya tajam betul. Dan apakah ada orang yang mau kehilangan orang tua yang disayanginya dan menganggap kelahiran yang lain sebagai pengganti?

Ketika dokter anak di rumah sakit berpesan supaya anak-anak jangan digendong orang lain (yang menengok), karena kebetulan adek Rindu gak bisa vaksin karena BB nya kurang, dan dia kelewatan vaksin baru lahir karena saya belum bisa mengejar target kenaikan BB idealnya untuk bisa segera divaksin, dan baru ketika vaksin kedua dia bisa ikut disuntik seperti saudari kembarnya. Itu supaya si adek gak tertular penyakit dari orang dewasa yang menggendong dia, karena kondisi adek saat itu masih rentan. Tapi ada orang dekat yang memfitnah saya dan mengatakan bahwa anak-anak saya eksklusif, saya terlalu sombong gak mengizinkan orang lain untuk menyentuh si kembar. Ya Allah, cobaan apalagi ini.. 😔






Pun ada orang yang memfitnah saya lagi-lagi melahirkan dengan cara SC karena saya takut melahirkan normal. Faktanya, si kembar dijadwalkan SC 2 minggu pasca mama meninggal, tapi malah pembukaan di usia kehamilan 36 minggu. Mereka yang gak tau apa-apa terus menyebar rumor yang bikin saya sedih, saya gak bisa marah, saya cuma bisa nangis, karena ini dilakukan oleh orang-orang dekat.

Setelah melahirkan sekitar 2 minggu, mertua menjemput saya untuk tinggal sementara di rumah mereka sampai saya benar-benar pulih. Sampai di sana tiba-tiba rahim saya terasa nyeri, seperti kram perut dengan sakit dua kali lipat dari sakitnya ketika PMS. Suami membawa saya ke klinik, setelah dilakukan USG, ternyata rahim saya masih belum susut, dan ada gumpalan darah di dalam. Saya diberi obat peluruh darah, supaya darah hancur dan gampang dikeluarkan. Esoknya saya mulas luar biasa, kayak mulasnya orang mau melahirkan. Ternyata keluar 2 gumpalan sebesar kepala bayi dari jalan lahir. Alhamdulillah setelahnya kondisi saya membaik.

Saya membujuk suami supaya bisa pulang ke rumah karena tidak tahan dengan omongan negatif orang-orang ketika saya menjemur anak-anak. Suami setuju setelah cukup lama berdebat dengan orangtuanya. Saya tidak tahan dengan omongan orang yang terus mendesak saya untuk memberi si kembar susu formula karena mereka gak percaya ASI bisa membuat anak-anak kuat dan lebih berisi, apalagi mereka melihat tubuh saya yang terlalu kurus seperti orang yang gak cukup makan. Dan mereka gak yakin kalau saya bisa menyusui kembar sampai usia 2 tahun.

Saya bertahan dengan keputusan bahwa saya tidak akan pernah memberi susu formula untuk mereka, saya berjuang supaya ASI benar-benar cukup untuk mereka. Dan alhamdulillah, setelah 2 bulan ASI, mulai terlihat betapa sehat dan 'montoknya' mereka berdua. Saya benar-benar bersyukur karena suami, ayah dan adik-adik saya selalu memberikan support dan do'anya untuk saya dan si kembar. Dan pelan-pelan, orang yang selalu nyinyir mengakui bahwa ASI makanan terbaik dari Allah, gak peduli seberapa kurusnya ibu yang menyusui.








Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Booklover, Blogger yang tersesat megap-megap setelah multiply diberangus...

No comments for "Perjuangan Pasca Melahirkan Kembar Part 2"

Berlangganan via Email