; To Live - Yu Hua - SayaNaia

To Live - Yu Hua

Judul Buku     : To Live - Hidup
Penulis           : Yu Hua
Penerjemah    : Agustinus Wibowo
Penerbit         : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit   : 2015
Tebal             : 224 Halaman
ISBN             : 978-602-03-1382-5





Saya baru saja menyelesaikan buku ini 2 hari yang lalu, mau cepat-cepat buat resensinya tetapi koneksi wi-fi di rumah lagi parah banget. Bahkan untuk membalas komentar saja agak sulit. Woi curhat.. Hahaha..

Ya, buku di tangan saya ini berjudul To Live yang penulisnya berasal dari negeri tirai bambu bernama Yu Hua. Mungkin sebagian teman-teman sudah membaca buku ini, tetapi kebetulan saya baru mendapatkan buku ini pertengahan tahun lalu, itu pun bekas tetapi masih cukup bagus dan tidak ada coretan, lipatan dan lain-lain. Benar-benar idaman pecinta buku, ya kan? 🙈.

Sesuai dengan judulnya, HIDUP, buku ini berkisah tentang seorang pria bernama Xu Fugui yang sudah banyak mengalami pahit manisnya kehidupan. Hidupnya semula penuh dengan kegembiraan, berfoya-foya, main judi dan tempat pelacuran. Tak heran, Fugui adalah anak seorang tuan tanah yang terkenal di kampungnya. Ia juga memiliki istri yang cantik dan sangat patuh, meski kerap diperlakukan kasar oleh Fugui.

Kegemaran Fugui berjudi semakin lama semakin parah, sampai-sampai ia menjadikan rumah dan tanah milik orang tuanya sebagai jaminan bila ia kehabisan uang di meja judi. Ia juga suka mengolok-olok mertuanya, seorang juragan toko beras, tetapi mertuanya memilih untuk sembunyi ketimbang malu melihat kelakuan Fugui.

Lalu seketika hidupnya berubah drastis, setelah sekian kali kalah di meja judi, ia harus merelakan tanah warisan dan rumah milik ayahnya diambil alih oleh si penipu ulung bernama Long Er. Meski marah, ayah Fugui merelakan harta mereka untuk digadaikan demi membayar utang Fugui. Yang tersisa hanya rumah gubuk di dekat tanah yang dulunya milik mereka. Segera setelah itu, ayah Fugui meninggal dunia. Ibu Fugui tidak heran dengan kelakuan anaknya itu, karena dulu sewaktu muda, ayah Fugui pun sama saja dengan anaknya itu. Senang berfoya-foya dan mengorbankan tanah seluas 100mu karena kalah di meja judi. Dan kejadian itu berulang hingga tidak ada sepeser pun tersisa.

Setelah ayahnya meninggal dunia, mertua Fugui mengambil kembali puteri mereka, Jiazhen, yang kala itu tengah hamil anak kedua. Fugui ditinggalkan begitu saja dalam keadaan miskin dan terhina bersama ibu dan Fengxia, anak pertama Fugui. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena merasa bersalah, selama menikah dengan Jiazhen, tak pernah sekali pun Fugui membuatnya bahagia. Ia malah sering melontarkan makian dan memukuli istrinya yang setia itu.

Fugui pun menjalani hari-harinya sebagai petani dengan menyewa tanah seluas 5mu kepada Long Er. Lama-lama ia terbiasa dengan pekerjaannya itu dan hasil panennya ia jual ke pasar dan membayar sebagian keuntungannya kepada Long Er.


"To Live menulis tentang kemampuan manusia menahan penderitaan dan kesulitan, sebagai pandangan optimistis manusia terhadap dunia.
 Manusia hidup sesungguhnya adalah demi hidup itu sendiri, dan manusia hidup bukan demi hal-hal lain di luar hidup" Yu Hua.


Pada akhirnya Jiazhen kembali ke rumah setelah melahirkan anak kedua mereka yang diberi nama Youqing. Tapi tak lama setelah itu ibu Fugui jatuh sakit. Ketika Fugui hendak mencari tabib di kota, ia malah diseret oleh komandan Tentara Nasionalis. Ia dipaksa untuk menyeret meriam dan bergabung dengan para tawanan lain tanpa sempat memberitahu kepada keluarganya. 

Fugui mengalami ketakutan dan kelaparan di dalam terowongan wilayah militer bersama ratusan tawanan lain yang juga dijemput paksa oleh para komandan kompi. Beberapa dari mereka berusaha kabur tapi selalu saja kembali ke tempat itu karena lagi-lagi mereka tertangkap oleh Tentara Nasionalis. Para serdadu ini terperangkap di tanah seluas 20 li, di tengah desingan peluru yang terus saja ditembakkan dari udara. Bila tidak hati-hati, nyawa mereka bisa melayang sia-sia.

Lalu apa yang terjadi dengan keluarga Fugui di rumah? Akankah Fugui bisa kembali ke tengah keluarganya dengan selamat? 


Buku To Live pada awalnya dilarang terbit di negaranya sendiri, namun malah mendapat penghargaan dan menjadi buku yang paling berpengaruh di Tiongkok. Buku ini juga diadaptasi menjadi film yang disutradarai oleh Zhang Yimou dan dirilis di tahun 1994 dan juga diadaptasi menjadi serial televisi dan sandiwara panggung.
Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Booklover, Blogger yang tersesat megap-megap setelah multiply diberangus...

37 comments for "To Live - Yu Hua"

  1. Aku belum baca bukunya mbak, sepertinya bagus ya kalo lihat sinopsisnya, apalagi sampai difilmkan oleh Zhang Yimou yang merupakan sutradara kondang.

    Kira kira apakah fugui akan ketemu lagi dengan istri dan anak-anaknya?

    Ah, kalo dibikin sinetron di televisi ikan terbang sepertinya seru nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus, Mas.. Settingnya banyak, pas perang, revolusi china, dll. Jadi ada banyak era berganti di masa Fugui hidup. Kalau soal bertemu lagi atau enggak, nah ini baca sendiri.. Hahaha aku gak mau spoiler..

      Kalo tayang di televisi ikan terbang pas banget sih ya sama backsound-nya "KU MENANGIIIISSSS..." Tapi kasian nanti Fuguinya bisa borong azab dong ya..wkwkwk

      Delete
    2. auto taknyanyikan tadi....suara mbul kemudian menjelma suara rossa wkwkwkwkk

      Delete
    3. wkwkwk suaranya melengking tajam melesat sampai ke angkasa..

      Delete
  2. kok menarik ya kak naia...aku malah membayangkan setting china klasik era era jadoel macam drama mandarin xiao yu tien dulu...ini settingnya jadul kan ya...

    fugui yang semena-mena dan seenak udelnya dewe...berfoya foya, judi, dsb...akhirnya di akhir akhir kisah menuju masa masa kena karmanya...huhu...

    segala macam warisan orang tuanya yang tuan tanah habis hanya dengan judi dan terlibat permasalahan dengan orang licik macam long er.. dan harus bekerja padanya...

    kasian banget jiazhen dan anak dalam kandungan juga anak pertamanya ya...uda dipiara baik baik sedari kecil oleh orang tua meski hanya memiliki toko beras, e dapatnya orang macam fugui...sedih betul

    jadi penasaran sama endingnya

    nice sinopsis seperti biasa kak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bacalah.. Hehehehe.. Tapi siapin rahang kenceng ya, karena terlalu banyak kisah tragis di buku ini..

      Delete
  3. btw...jangan jangan nama merek wifinya sama kayak temoatku..soalnya sering mati mati juga wkwkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. ternyata beda...merek sebelahnya lagi punyaku hihihi

      Delete
    2. Makanya mendingan pakai operator kuning dong, udah paketnya murah jalannya kenceng lagi kayak keong eh ~

      Delete
    3. Mbul: apa tuh?

      Mas Agus: Di LA operator kuning menyedihkan, Mas.. Sering silang, jika beruntung dapet 1 bar.. Haduh.. Makanya aku pake dua nomor deh, si merah dan si kuning..

      Delete
    4. kalo di tempat gw lebih enak pake si mearah, sinyalnya ngebut :D.. heheh asal nimbrung aja ga tau apa yang di omongin wkwkwk :D

      Delete
    5. Hahahaha gapapa, samber aja.. ini cuma rame komenan mas Agus sm Mput doang, seperti biasa.. wkwkkw..

      Delete
    6. Disini sinyal si kuning lumayan sih, kadang full, karena full itulah jalannya kencang banget kayak keong, pernah download lagu 7 MB saja sekitar 10 apa 15 menit ya, sampai batere dari 30% jadi 20%.🤣

      Eh itu kalo malam sih, kalo pagi lumayan kencang beneran, bisa sampai 1 MB per detik biarpun rata rata 200 kb perdetik

      Delete
  4. Belum pernah baca bukunya, baru tahu setelah baca ini. Separah ini ya kelamaan jarang baca 🤭😂

    Kok kzl ya baca kelakuan Fugui, aku udah lama mrnghindari buku yang bikin aku ikut kesel sama tokohnya. Takut emosi jiwa akutu 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha aku juga awalnya kesel, mbak.. Tapi lama2 kasian pas baca ke tengah2 buku..

      Delete
    2. Ahaha...
      Jadi penasaran gimana Fugui selanjutnya

      Delete
    3. Baca mbak.. Bagus ceritanya..

      Delete
    4. Nah, ini dia masalahnya. Udah lama aku ga baca buku 🤭
      Keknya 24/7 itu kurang banget, ada aja kerjaan *alesyan*. wkwkwk

      Delete
    5. hah iya bener, 24/7 itu kurang.. wkwkwk.. apalagi bulan puasa begini..

      Delete
  5. menarik juga nihya mbak ceritanya, tentang kehidupan seseorang yang kaya raya tapi suka berjudi dan berfoya-foya, ahirnya kalah dan jadi miskin, kemudian kehidupanya terseret jadi tawanan, gak ketebak sih nanti jalan ceritanya kayak gimana.. tapi prediksi gw mungkin si fugui jadi baik akan keliarga yang di tinggalkanya hehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk.. ayo baca, seru wkwkwk aku pengen spoiler tapi nanti jadi gak seru lagi

      Delete
    2. Pengin ikutan baca tapi ngga punya bukunya, boleh lah dikasih link download ebook nya.😋

      Delete
    3. Sip, ntar aku cariin ya, Mas..

      Delete
  6. belum pernah baca nih buku nyaa mba,

    kayanya seru yahh membacanya, bisa berhari-hari baacanya tebel sampe 224 halaman, hhhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. seru, mbak. Salam kenal ya, terima kasih sudah mampir ^_^

      Delete
  7. Dilarang terbit di negeri sendiri, tapi mendapat pengharga di Tiongkok dan menjadi buku yang paling berpengaruhdi Tiongkok. Ini membuktikan bahwa setiap buku atau tulisan itu akan menemukan pembacanya sendiri. Selamat siang ananda Naia. Selamat berpuasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul bu, karena terlalu vulgar menceritakan tentang negara sendiri kali ya.. Tapi setiap negara pasti punya sejarah kelam kan, dan lama kelamaan akan terbuka juga, dan jadi pelajaran untuk generasi berikutnya.. Selamat berpuasa juga bu.. ^_^

      Delete
  8. Kok saya bersyukur yh hidup fugui jd susah,, soalnya kezal lihat kelakuannya diawal suka judi sampai jatuh miskin,,, huft.. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. memang greget kelakuan Fugui ini, tapi begitu miskin dia kayak habis jatuh tertimpa tangga, malang terus..

      Delete
  9. menarik jalan ceritanya... tak perlu fikir mendalam. santai... ;-) thanks 4 sharing

    ReplyDelete
  10. p/s selamat berbuka puasa ya ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe terima kasih, kak.. Perbedaan waktu kita 1 Jam, KL lebih dulu dari Jakarta.. Tadi saya berbuka pukul 17.51 :-D

      Delete
  11. main ke kantorku mbak... wifinya josss... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk mana sempaaat... PJJ mengubah segalanya.. sejak pandemi hampir gak bisa kemana2, sampe masak aja susah.. wkwkwk

      Delete

Post a Comment