; Apakah Kamu Sudah Merdeka? - SayaNaia

Apakah Kamu Sudah Merdeka?

Hai, selamat merayakan hari kemerdekaan untuk seluruh rakyat Indonesia di mana pun kalian berada. Ini berarti sudah 73 tahun ya Indonesia merdeka. Nah merdeka itu apa sih? Kalo kita merujuk arti dari KBBI, merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan, dsb), berdiri sendiri; tidak terkena atau bebas dari tuntutan; tidak terikat tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu: leluasa, dapat berbuat sekehendak hatinya. Ya kira-kira begitulah artinya.


Nah Indonesia kan sudah merdeka nih, kalo kamu gimana? Merasa sudah merdeka belum sih? Apa sih arti merdeka buat kamu? Kalo merdeka buat saya sih ikut pengertian KBBI yang keempat ya, leluasa, dapat berbuat sekehedak hati πŸ˜†tapi tetap bertanggung jawab ya. Bebas dari segala ancaman dan paksaan orang lain (termasuk tawaran MLM dan kredit baperwer 😝😝). 



Merdeka bagi saya adalah ketika saya bisa menolak hal-hal yang tidak mau saya lakukan walaupun orang lain memaksa. Tanpa ada drama perasaan gak enak hati dan tentu saja menolaknya tetap dengan cara yang halus dan santun ya. Merdeka itu bebas menyampaikan pendapat di hadapan orang lain tanpa merasa takut akan ancaman dan intimidasi dari pihak tertentu. Bebas melakukan apa pun (dalam hal positif) tapi tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan orang lain.



Tapi kenyataannya sampai hari ini, masih banyak orang yang merasa belum bebas dari ancaman, belum bebas melakukan apa yang mereka suka (dalam koridor positif), dan masih banyak orang di luar sana yang merasa gagah karena bisa 'menjajah' orang lain. Ya kebanyakan orang merasa bangga kalo sudah bisa 'menindas dan mengendalikan' orang lain. Menurut saya hal-hal seperti dendam dan sakit hati adalah bentuk bahwa kita belum merdeka sepenuhnya. Ketika kita kecewa dan marah, sangat wajar ada rasa sakit di hati, tapi bagaimana kita bisa mengendalikan kekecewaan itu bisa menjadi pembuka jalan untuk kita menjadi pribadi yang lebih matang dan dewasa. 


Saya termasuk orang yang seringkali merasa kecewa dan marah, saya merasa bahwa setiap hal yang saya lakukan selama ini selalu salah di mata orang lain. Kalo dulu ketika belum menikah dan punya anak, saya merasa bebas mengekspresikan kekecewaan saya dengan cara melawan orang yang menyakiti saya (jika mereka sudah sangat keterlaluan). Tapi seiring berjalannya waktu, saya berusaha untuk bisa mengendalikan rasa kecewa itu ke arah yang lebih benar. Saya mengalihkan rasa marah dengan menggambar apa saja yang saya suka, mendengar musik keras-keras (ini belum bisa dibilang benar karena bisa mengganggu tetangga ya). Saya menulis hal-hal yang membuat saya marah di selembar kertas, lalu saya remas dan sobek2 kertas itu sambil berkata bahwa rasa marah ini selesai ketika kertas ini hancur, dan sesudahnya saya merasa lega.


Kemudian setelah menikah dan punya anak, saya belajar untuk bisa lebih bersabar. Saya hanya berpikir bagaimana supaya anak-anak kelak tidak meniru sifat buruk saya yang gampang tersulut emosi. Kan anak-anak adalah cerminan orang tua, bukan? Apalagi ibu, orang yang paling dekat dengan anak-anak, madrasah pertama bagi anak-anak. Kalo saya masih sumbu pendek, bagaimana dengan anak-anak saya nanti?


Saya belajar tidak apa ketika orang lain merasa bebas untuk menyakiti saya atau orang lain, saya tidak peduli. Perasaan sakit dan marah tentu masih ada, manusiawi. Tapi fokus saya adalah saya tidak mau menjadi orang yang menebarkan energi negatif ke orang lain. Saya harus memerdekakan diri saya dari sifat pendendam dan marah, dan saya masih terus belajar. Semoga kelak anak-anak bisa lebih merdeka, bisa bebas tanpa didikte orang lain, selama itu tidak melanggar aturan masyarakat dan agama.
Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Booklover, Blogger yang tersesat megap-megap setelah multiply diberangus...

No comments for "Apakah Kamu Sudah Merdeka?"

Berlangganan via Email