; Menjadi Ibu yang Bahagia - SayaNaia

Menjadi Ibu yang Bahagia

Bahagia. Selama ini kita sering banget kan denger kata 'bahagia'. Bahagia karena mendapat hadiah yang bagus. Bahagia karena punya rumah yang besar. Bahagia karena punya uang banyak, bisa jalan-jalan ke luar negeri dan beli barang-barang yang kita suka. Ada juga yang bahagianya simpel, kayak bisa baca buku santai tanpa rengekan atau teriakan anak-anak misalnya, bisa asyik menggambar tanpa takut tiba-tiba ada tangan mungil ikutan nyoret2 di kertas yang lagi kita pake, bisa asyik nonton drama korea tanpa interupsi dari si kakak yang minta diajarin PR matematika misalnya. (ini sih bahagia versi saya) 😝. 


Sedangkan menurut KBBI alias Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan). Tapi tentu saja ya masing-masing orang berbeda dalam mengartikan kata bahagia itu. Dan apakah dia menganggap dirinya bahagia atau tidak itu tergantung dari caranya menyikapi setiap hal yang terjadi pada dirinya (aduh kok bahasanya muter-muter gini ya 😁). Ya intinya mau dibikin simpel apa ribet ya tergantung diri kamu sendiri, gitu lho.. 😜






Nah seiring perkembangan zaman dan makin banyak orang yang melek dan menggunakan sosial media, makna bahagia menjadi agak bergeser ke tingkatan yang lebih tinggi dan mungkin akan semakin tinggi. Apalagi ibu-ibu seperti saya ini nih, yang gak pernah kemana-mana dan setiap hari full mengurus anak-anak dan rumah tanpa bantuan ART. Gak bisa bohonglah ya kalo lihat ada teman yang upload hasil foto-foto liburan bersama keluarga, dalam hati ada sedikit rasa.. "duh enaknya yang bisa jalan-jalan". Atau ada teman yang kumpul-kumpul reuni sekolah, sementara saya gak bisa ikutan karena suami di luar kota dan anak-anak gak ada yang jaga 😂. Dan sederet kata seandainya begini seandainya begitu tiap kali liat timeline bahagianya orang-orang di sekitar saya, kalo tidak diikuti dengan kesadaran penuh ditambah perut keroncongan, si kembar jejeritan karena rebutan sesuatu yang padahal ada duplikatnya (barangnya dibeli 2 dan masing-masing punya satu), perut nyeri karena lagi PMS.. Udah deh.. Tamat sudah.. Bisa-bisa suami pulang juga pengennya ngajak ribut 😂. 



Tapi bersyukurnya nih, suami saya tipe orang yang ya udah sih apa-apa dibawa santai, istrinya mau nyerocos ngoceh ngomel sepanjang sabang sampai merauke juga doi kalem aja. Sudah hafal kenapa istrinya begini amat yak? Kadang kelihatannya kayak ih cuek amat, dan tiba-tiba dateng bawa matcha dingin disodorin di meja depan muka saya, atau tiba-tiba ada seporsi soto ayam udah dituang di mangkok, lengkap dengan sendok. Dia tau istrinya capek berat dan kebawa baper, tau banget istrinya pengen jalan-jalan atau sekedar me time melipir sebentar ke toko buku, dia tau kalo istrinya butuh waktu buat mewarnai misalnya. Jadi gak perlu berantem heboh kan. Kalo sudah begitu, saya melunak sendiri, berdamai dengan diri sendiri, ngapain coba membandingkan diri dengan orang lain? Saya inget-inget kalo pagi-pagi saya bisa senyum cengar-cengir liat si kembar ngobrol soal roti panggang yang saya bikin untuk mereka sarapan misalnya. Saya senyum dan terharu setiap hari anak-anak selalu bilang 'mama, aku cayang mamaaa. ai laf yu maaaa' Atau si kakak yang selalu bilang 'i love you, have a nice dream' tiap kali dia selesai berdo'a ketika mau tidur. Atau ketika suami pamit pergi ke kantor dan sekedar mencium pipi saya sebelum berangkat. Simpel kan sebenernya?



Mau bahagia jangan terus lihat ke atas, bayangkan saja hal-hal menyenangkan yang terjadi setiap hari. Ah kamu sih enak bla bla bla, kalo saya kan bla bla bla.. Ini nih yang bikin kita jadi gak bahagia. Gimana mau bahagia kalo tiap hari kerjanya kok membandingkan diri dengan orang lain. Menerima keadaan diri sendiri, gak iri dengan keberuntungan orang lain, gak gatel mengomentari orang lain, insya Allah deh hati kita lebih plong, pikiran jadi lebih positif dan kebahagiaan akan terpancar dari wajah kita (tsah elah). Wajah berseri-seri, kinclong, tak tampak keriput karena sering cemberut.. 👶 Gak usah iri kalo lihat orang lain jalan-jalan ke puncak, sementara kita ke puncak malah naik kendaraan, bukan jalan. Eh.. 😛. Kita kan gak tau ya orang yang kelihatannya bahagia di sosmed, upload foto jalan-jalan kesana kemari, senyum semringah mengembang tak tampak cemas akan cicilan dan utang. Siapa tahu dia pandai menyembunyikan apa yang memang gak perlu orang lain tahu. Mana tahu dia selama ini curhatnya cuma sama Allah kan? Kamu sih enak mikirnya orang lain enak terus hidupnya... eh... 



Sudah ya, selamat berakhir pekan, cari bahagia walaupun belum sempat jalan-jalan 😂😂 (duh ileh TS curhat molo yak).


Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Booklover, Blogger yang tersesat megap-megap setelah multiply diberangus...

No comments for "Menjadi Ibu yang Bahagia"

Berlangganan via Email