; Idul Adha dan Bentuk Keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalaam - SayaNaia

Idul Adha dan Bentuk Keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalaam

Selamat Hari Raya Idul Adha 1442 H, bagi umat muslim di seluruh dunia. Idul Adha yang biasa juga disebut sebagai Idul Qurban, adalah hari raya yang identik dengan penyembelihan hewan qurban yang dilakukan oleh umat muslim. Pelaksanaan qurban itu sendiri dilakukan setelah shalat Idul Adha dan di hari-hari tasyrik yakni sebelum matahari terbenam di tanggal 11,12, dan 13 Dzulhijjah. Hari tasyrik merupakan hari di mana umat Islam diharamkan untuk berpuasa.


artist: dankudraw
source image: Vecteezy


Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: 

“Hari-hari Mina adalah hari-hari makan, minum dan berdzikir kepada Allah” (HR. Muslim)

Hari-hari Mina disini disebut juga hari tasyrik

Mungkin bagi teman-teman muslim sudah banyak yang tahu tentang sejarah adanya pelaksanaan qurban, tetapi di sini saya hanya mau sedikit menceritakan ulang sebagai bentuk catatan bagi diri saya sendiri dan sebagai tambahan ilmu bagi orang-orang yang belum tahu. Bagi yang sudah tahu, cukup dinikmati saja sedikit ulasan dari saya. 😊

Pada suatu malam Nabi Ibrahim Alaihissalaam bermimpi bahwa ia menyembelih putranya, dan ini diisyaratkan sebagai wahyu dari Allah. Yang kemudian diabadikan oleh Allah dalam surat As-Shaffat ayat 102: 


“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’”

Terdapat perbedaan pandangan antara umat Islam dan Yahudi. Umat Islam meyakini bahwa putera yang hendak disembelih adalah Ismail, sementara Yahudi dan Nasrani meyakini bahwa Ishaq yang disembelih. 

Karena ketabahan Nabi Ibrahim dan puteranya menjalani perintah Allah, Allah mengganti jasad Nabi Ismail dengan seekor kambing gibas ketika Nabi Ibrahim bersiap untuk menyembelihnya. Dalam riwayat disebutkan ada suara yang berseru :

"Wahai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu". 

Peristiwa ini menjadi tanda bahwa Nabi Ibrahim dan puteranya, Nabi Ismail, termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar dan taat pada perintah Allah. Nabi Ibrahim sebagai sosok ayah yang sangat menyayangi puteranya, namun tak gentar menghadapi ujian dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Peristiwa Qurban sebelumnya juga sudah pernah digambarkan oleh Al-Qur'an dalam surat Al-Maidah ayat 27, yakni ketika Nabi Adam meminta kepada puteranya Habil dan Qabil untuk melaksanakan ibadah qurban, untuk menentukan jodoh bagi mereka berdua.  

Surat Al-Maidah ayat 27 berbunyi:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Pengertian Qurban

Qurban berasal dari kata qaruba yang artinya dekat yang diartikan dalam kamus Al-Marbawi yakni barang yang dihampirkan kepada Allah, untuk (manusia) beribadah. Disebut juga sebagai Udhhiyyah atau binatang yang dijadikan qurban. 

Sedangkan menurut istilah syariat  Islam, qurban adalah menyembelih binatang ternak (kambing, sapi, kerbau, unta, biri-biri dan domba) yang dilaksanakan setelah shalat Idul Adha dan pada hari-hari tasyrik (11,12,13 Dzulhijjah) untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ibadah ini dikhususkan bagi orang-orang yang memiliki keluasan dalam rezeki dan kelebihan harta sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah, dan membagikannya kepada orang-orang yang kurang mampu. 

Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Kautsar ayat 1-2: 

"Sesungguhnya Kami telah memberi engkau (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah".


Hukum Qurban

Menurut pandangan ulama ahli fiqih, Imam Taqiyuddin, jumhur ulama, Imam Syafi'i dan Imam Malik, hukum berqurban adalah sunnah. Dan sebagian ulama lain berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah muakkad (sunnah yang diutamakan). Ada pula yang berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib bagi orang-orang yang memiliki kemudahan dalam mencari rezeki. Mereka adalah sahabat Nabi yakni Ibnu Mas'ud, Ibnu  Abbas, serta beberapa ulama fiqih seperti Abu Yusuf, Al-Auza'i, Abu Hanifah, Al-Lais dan sebagian kaum Malikiyyah. 

Syarat Sah Hewan Qurban

Sepeti sudah disebutkan dalam paragraf sebelumnya, hewan yang diqurbankan merupakan hewan ternak seperti sapi, kerbau, kambing, domba, biri-biri, dan unta. 

  • Hewan qurban harus cukup umur. Kambing yang berusia 1 tahun lebih (Al-Maiz), domba usia 6 bulan sampai 1 tahun (Al-Jadza'u), sapi atau kerbau berusia 2 tahun (Al-Baqar), dan unta yang berusia 5 tahun (Al-Ibil).
  • Hewan qurban harus sehat, matanya tidak rusak, tidak pincang dan tidak korengan.
  • Hewan qurban harus yang jantan, karena lebih banyak dagingnya daripada hewan betina.

Satu ekor kambing, domba dan biri-biri bisa dijadikan sebagai qurban satu orang, sementara satu ekor sapi, kerbau dan unta untuk 7 orang.

Sunnah Dalam Berqurban

  • Hewan qurban yang akan disembelih hendaknya dihadapkan ke arah kiblat.
  • Membaca Basmalah
  • Membaca shalawat untuk Nabi Muhammad Shallawlahu'alaihi wa salam.
  • Membaca takbir "Allahu Akbar" sebanyak-banyaknya.
  • Menyembelih dengan membaca do'a agar hewan qurban diterima oleh Allah.
  • Sepertiga daging qurban boleh dimakan oleh orang yang berqurban dan sebagian besar dibagikan kepada fakir miskin dan orang-orang yang tidak mampu. 


Rujukan:
  • islami.co
  • madaninews.id
  • Wikipedia
  • Buku Fiqih Madrasah Ibtidaiyah kelas 5, penulis Muhammad Zubad, S.Ag., M.Pd.I. Penerbit Pustaka Mulia.




Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Ibu dari 3 orang anak, Bookworm, Senang menonton drama dan film, Ambivert, Senang menertawakan kehidupan, Terlahir dengan wajah jutek dan aslinya memang galak sih.. Hehehehe

11 comments for "Idul Adha dan Bentuk Keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalaam "

  1. Masya allah,, seger baca postingan kyak gini,, saya gak tau kak naia kerasukan apa tiba2 tulisanny kayak khutba kayak gini hihih...

    Minal aidzin kak naia... Salam juga sama keluarganya disana

    ReplyDelete
  2. Selamat hari raya idul adha mbak naia.. minal aidzin walfaidzin yaa

    ReplyDelete
  3. Kisah pengorbanan seorang super human, nabi pilihan dari 5 nabi utama...
    Selamat Hari Raya Idul Adha di tengah PKKM yoi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas, Nabi Ibrahim sebagai contoh ayah teladan juga..

      Selamat Hari Raya Idul Adha juga ya ^_^

      Delete
  4. salam aidil adha buat mbak Naia sekeluarga di sana.

    tempoh hari sy ada dengar tazkirah tentang akhlak dan keperibadian Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail dan kenapa Allah memilih mereka sebagai nabi dan dari susur galurnya, sampai ke Nabi SAW. kemuliaan dan keimanan yang dimiliki mereka tak dapat ditandingi mana-mana manusia di muka bumi ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama kak.

      Betul kesucian keturunannya juga terjaga sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

      Delete
  5. p/s terima kasih atas komen dan singgah di blog sy. nanti sy sambung komen lagi yaa😊

    ReplyDelete
  6. Selamat Hari Raya Aidiladha. Lewat pulak beraya di sini. Terima kasih ya atas perkongsian ilmiah ni.

    ReplyDelete

Post a Comment