; HAMA - SayaNaia

HAMA

"Jika tidak bisa membuat orang lain bahagia,
setidaknya jangan menjadi hama yang menjadi
penghalang bagi kebahagiaan orang lain". (Naia Djunaedi)




Saya pernah menulis kalimat ini di tahun 2019. Saat itu saya memang tengah kesal dengan ulah beberapa teman dan orang-orang terdekat yang terus saja berkomentar apapun yang saya lakukan, yang saya pakai, bahkan mereka gak malu-malu membuat status di facebook mereka untuk menyindir saya.

Saya bukan tipe orang yang senang mengomentari orang lain, karena bukan urusan saya. Kecuali untuk sahabat atau keluarga dekat yang memang mereka meminta saran dari saya, barulah saya akan memberi kritik atau saran tetapi benar-benar hanya ketika saya ada di dekat mereka, bukan melalui sosial media!

Karena hal ini saya sempat vakum agak lama di sosial media facebook mau pun instagram. Ada banyak orang yang mengomentari apa yang saya pakai, mulai dari pakaian, hijab sampai warna lipstik! Bahkan saya pernah dituduh memakai behel hanya untuk bergaya, karena saat itu sedang tren wanita berhijab menggunakan behel. Padahal saya memakai behel sejak tahun 2011 dan baru bisa melepasnya di tahun 2019 karena dokter gigi yang menangani masalah gigi saya meninggal dan saya harus luntang lantung mencari dokter pengganti yang mau melanjutkan perawatan gigi saya ini.

Bahkan ada yang selalu berkomentar "beauty is pain", sementara saya bukan orang yang peduli dengan penampilan fisik, saya tidak pernah merasa cantik dan tidak pernah merasa ingin cantik sehingga harus merasakan sakit demi menjadi cantik. Persoalan behel itu lantaran saya sering mengalami migrain dan membuat aktivitas saya terganggu. Rupanya posisi gigi depan bawah yang berantakan dan tumpang tindih (mirip pose foto rombongan keluarga bersama pengantin), dan membuat beberapa syaraf terganggu, belum lagi karang gigi yang muncul di bawah dan sulit dibersihkan karena posisi gigi yang gak normal. Beruntung suami mengizinkan saya memasang behel demi kebaikan dan kesehatan saya. Jadi bukan karena gaya!




Ketika ke mall ada ibu-ibu yang berkomentar bahwa lipstik yang saya gunakan tidak cocok dan membuat saya terlihat tua. Lalu mereka tertawa bersama dan bergosip seakan-akan saya tidak mendengar, mereka bilang 'anak zaman sekarang gayanya sudah kayak tante-tante, benar-benar gak sesuai dengan umur'. Belum lagi yang berkomentar pedas karena menyangka saya masih abg dan menuduh punya anak di luar nikah, padahal saat itu usia saya sudah menjelang 30 tahun! 

Saya akhirnya memutuskan untuk menjelaskan bahwa saya bukan anak di bawah umur, dan saya memang menikah muda setelah lulus kuliah dan mendapat pekerjaan tetap. Anak saya lahir 1 tahun setelah kami menikah. Mereka malu? Mungkin. Tapi sedikit pun mereka tidak meminta maaf dengan perkataan mereka sebelumnya yang membuat hampir semua pengunjung menatap saya dengan tatapan menghina. Saya hanya tersenyum, merasa miris. Semoga ketika tua kelak saya tidak menjadi bagian dari mereka.

Saya pernah dikomentari tidak pantas memakai gamis karena saya terlihat tua. Atau ketika saya memakai jeans orang terdekat berkomentar kalau gaya saya seperti remaja gak ingat umur. Padahal gaya saya dari dulu ya begini, jeans, tas selempang kulit dan sepatu kanvas atau kets. Hahaha lantas apa saya pakai karung goni saja biar kelihatan kayak gandum utuh? πŸ˜‚πŸ˜‚






Ada salah satu teman (yang tidak dekat) memasang status setelah ia tahu kalau saya sering ditinggal dinas suami, bahkan dalam satu bulan hanya bisa bertemu 3 hari saja. Itu biasa bagi saya. Namun, entah mengapa tiba-tiba dia memasang status "Kalau nikah cuma buat ditinggal-tinggal dinas mah gue ogah, kayak gak ada laki-laki lain aja. Masih banyak laki-laki yang bertanggung jawab gak ninggalin istrinya kemana-mana. Gue beruntung karena laki gue selalu nemenin gue di rumah, bukan cuma mikirin kerjaan doang. Nyari duit segitunya banget!"

Saya yang kebetulan banget baru ngobrol soal ini dengan dia lantas merasa kalau status ini sindiran untuk saya. Tapi saya diam. Lalu beberapa teman sekolahnya mengomentari statusnya tersebut dan mereka gak setuju karena kondisi mereka ternyata sama dengan yang saya alami. Maksud hati menyindir saya, malah dia yang mendapat serangan balik dari banyak orang. πŸ˜‡ Allah Maha Baik, saya tidak perlu repot-repot membela diri.

Ada lagi kenalan yang melihat aktivitas blog saya, lantas berkomentar "Rajin amat ngeblog-nya, kejar tayang nyari duit ya?" 😊 Bahkan ada yang bilang kalau saya pengangguran makanya blog saya selalu update. Hahaha nyatanya saya menulis ketika saya agak santai, untuk melepas beban yang saya pikul ketika lelah menghadapi polah anak-anak. Menulis di blog tentang hal-hal yang saya sukai, menjadi penyaluran emosi saya agar saya tidak berlaku kasar kepada anak-anak yang kadang membuat saya naik darah. 


katanya tua kalo pakai gamis begini
 (padahal ini maxi dress lengan kutung buatan ayah saya)



Sejak kecil bahkan sampai sekarang pun saya sering mendengar komentar mengenai kulit saya yang agak gelap. Bedanya saat ini banyak orang-orang yang begitu melihat anak-anak saya, mereka berkomentar 'untung ya anak-anaknya ikut kulit papanya semua, putih bersih, gak kayak ibunya' πŸ˜† duh ya Allah bu, kayaknya punya kulit gelap itu dosa, aib atau gimana sih? 

Bahkan sewaktu saya hamil kembar, ada oknum bapak muda yang sengaja menubruk saya dari belakang kencang banget sampai bahu saya sakit, dan dia gak minta maaf, cuma lihat saya sinis banget kayak gak merasa salah. Tapi  memang si bapak ini sudah terkenal 'gak mandang orang kecuali yang dianggap selevel dengan dia'. πŸ˜‚πŸ˜‚

Hahaha dan asal tahu aja, saya gak pernah kepingin punya kulit putih lagi dan saya gak mau balas omongan jahat sejak mama saya bilang 'kakak manis, senyumnya manis, manis itu sudah pasti cantik. Cantik belum tentu manis. Hatinya dilegain, maafin orang-orang yang mulutnya jahat. Jadi anak pinter, beradab dan jangan pernah nyakitin hati orang lain ya. Kita gak selevel dengan yang mulutnya jahat, jadi gak usah dibales' πŸ˜‡ Beruntungnya saya punya dua orang tua yang mendidik dan selalu mengingatkan saya untuk menjaga adab dan ucapan. Hidup bukan hanya sekedar hablumminallah (hubungan dengan Allah) tapi juga hablumminannas (hubungan dengan manusia).

Gak ada orang yang tahu bahwa saya yang katanya "Ah dia orangnya baik kok, gak bakal marah" yang katanya kebal dengan kritik ini pernah depresi dan hampir sering menyakiti diri sendiri. Di tahun 2012-2013 saya harus mengonsumsi obat anti depresan yang diresepkan oleh dokter yang juga teman saya ketika masih bekerja di radio dulu. Ini karena saya tidak bisa tidur, sering melamun kemudian menangis atau tertawa tanpa sebab. Hanya dokter dan suami yang tahu tentang kondisi saya. Kalau pun pada akhirnya kedua orang tua saya tahu karena tidak sengaja melihat obat-obatan yang saya minum semakin tinggi dosisnya. Mama menangis, dan itu yang membuat saya bertekad untuk menjaga kesehatan mental saya dan berhenti meminum obat-obatan itu lagi. Saya bersyukur kini saya tidak perlu obat itu lagi. 


Saya beruntung karena suami saya tipe orang yang pengertian, yang terus memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang saya sukai selama itu tidak mengganggu tugas utama saya sebagai ibu. Lalu saya berusaha berdamai dengan diri sendiri, bahwa saya tidak bisa menahan mulut atau jari orang lain berkomentar buruk tentang saya. Jadi ketika ada orang yang katanya memberi saran tapi di muka umum atau via sosial media, saya hanya tersenyum, karena saya tahu betapa sulitnya dia untuk menahan mulut dan jarinya agar tidak berkomentar buruk mengenai orang lain. 

Ini menjadi pelajaran bagi saya, semoga lisan dan jari saya terlindungi dan terhindar dari menilai orang lain dengan kata-kata yang bisa menyakiti hati orang lain. Juga untuk mendidik dan mengingatkan anak-anak supaya bisa menjadi manusia yang beradab, selalu menjaga setiap perkataan yang akan keluar dari mulut mereka walaupun dalam konteks bercanda. Bercanda tetapi tetap ingat untuk tidak menyinggung perasaan satu sama lain walaupun mereka kakak beradik. Selamat berakhir pekan. Wallahu'alam bisshawab..




Note: tulisan ini dibuat hari jum'at minggu lalu, tetapi belum sempat di post karena saya memutuskan libur di rumah ayah.. Hehehehe

ini bukan baper ya, tapi sekedar mau cerita yang pernah terjadi dulu-dulu. Insya Allah sekarang saya lebih santai dalam menghadapi kritik dan kecaman dari orang-orang. Hehehe





 

Naia Djunaedi
Naia Djunaedi ex Radio Script Writer, ex Journalist, Ibu dari 3 orang anak, Bookworm, Senang menonton drama dan film, Ambivert, Senang menertawakan kehidupan, Terlahir dengan wajah jutek dan aslinya memang galak sih.. Hehehehe

20 comments for "HAMA"

  1. Hmmm...

    Bingung mau komentar apa, soalnya aku belum pernah sampai ada orang yang ngatain, mungkin ada sih yang ngomongin aku di belakang, tapi yang penting jangan didepan ku deh.

    Memang kita tidak bisa menghentikan jari orang untuk menulis jelek tentang kita, begitu juga kita tidak bisa menjaga omongan orang agar tidak bisa bicara keburukan kita.

    Jadi memang baiknya kita tidak usah balas omongan buruk orang biarpun di samping kita, balas saja dengan senyuman, bahkan kalo perlu dikasih dengan bunga. πŸŒΊπŸŒΈπŸ’

    Plus jangan lupa potnya juga dilemparin.🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk ide bagus, Mas.. Aku ngakak beneran.. Enaknya sih pot yang dari tembikar itu lho.. mantep kan ya..wkwkwk

      Delete
    2. Potnya sini buat saya ajah mas... sayang atuh dilemparin sih.. :D

      Delete
    3. bunganya buatku aja...mau taktanam lagi...buat takbibit hihihi

      Delete
    4. Haaa jadi panjang komennya.. wkwkwk

      Delete
  2. hadeeuh mbak org yg gitu2 tuh gak usah diladenin tar juga mereka capek sendiri... yg penting kita gak merugikan mereka, gitu aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul, Alhamdulillah sekarang udah biasa aja nanggepinnya, Mas. Kalo di socmed mah tinggal remove atau block aja.. Hhehehe, bahkan saya akhirnya ikutin saran suami untuk limit komen di instagram, jadi yang bisa komen cuma orang2 yang follow saya aja.

      Delete
  3. yah memamg tiap orang gitu mbak hobi mengomentari apa apa dari orang lain, aku sering banget mengalami itu, dari fisik dan sifat pendiem, aku memang sering diem kalo kumpul orang lain di kira sombong, padahal emang aku ga pinter ngomong di depan orang lain.. aku selama ini sih bodo amat dengan komentar orang lain, yang penting jadi diri sendiri aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat Nif, aku juga punya adek laki2 yang tipenya pendiam kayak kamu gitu. Bahkan untuk ngomong ke ortu aja mesti aku yang mancing dia curhat dulu.. wkwkwk.. Santai aja Nif, yang penting jangan kita yang nyakitin hati orang ya ^_^

      Delete
  4. Kalau mau ngomentar seeloknya jangan menyinggung perasaan orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, wak.. Jadi pelajaran untuk saya juga nih ^_^

      Delete
  5. Wah hatersnya kak naia banyak juga yah,,, mulai dr ujung kaki sampai ujung rambut d komentarin ehh sampai suaminy pun di komentari,, astagfirullahhh. Yang sabar kak nai,,, ga usah dengar orang, dengar ajkata hatinya kak naia,, yang terbaik cuman kak naia yg tau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehheehe gpp, Lul.. Cuma aku nyesel aja dulu kenapa suka jedotin kepala ke tembok ya kalo kesel sama omongan orang, dari abg tuh, sekarang sering sakit kepala jadinya. Syukur ada mama yang support terus, mama gak ada, ada suami sama sahabat2 yang jadi support system. Yg penting keluarga dan sahabat dekat yg tau gimana kita, jadi ya terserah aja mau dibilang apa juga. Hahaha

      Delete
  6. Hai Kak, semoga Kakak selalu bahagia setelah menulis ini semua karena aku percaya menulis itu salah satu terapi terbaik untuk melepas semua hal negatif yang ada di diri kita.

    Aku sendiri termasuk orang yang menjauh dari lingkungan karena aku merasa mereka telalu judgement tanpa tahu aku aslinya gimana. Aku juga percaya kalau aku punya banyak haters karena ada banyak manusia di luar sana yang terlalu sibuk menjelekkanku, tanpa mereka tahu bahwa aku sedang berusaha baik-baik saja dengan itu semua.

    Semoga kesabaran kita mendapatkan balasan baik dari Tuhan ya Kak.
    Perbedaan kita hanya satu, aku masih single dan aku terlalu bersugesti bahwa aku tidak berhak menerima cinta. Ah, jadi curhat. I'm sorry Kak.

    Aku mencoba berkarya dengan caraku sendiri saat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin.. Semangat!! Gpp curhat aja.. Aku seneng kalo ada orang yg curhat ke aku, walau pun kadang aku gak bisa kasih solusi, setidaknya perasaan mereka plong..

      Yakin sama Allah ya, terus berdo'a minta dipantaskan untuk dapat pasangan yang terbaik, Insya Allah kalo sudah waktunya menurut Allah, pasti ketemu dengan jodohmu. Aamiin #peluk virtual ^_^

      Delete
  7. senasib...pernah dan kadang kadang masih sering ngerasa depresii dan tertekan hiks...jadi cuma bisa kasih virtual hug aja πŸ₯ΊπŸ€—

    ReplyDelete
  8. Abaikan kata kata mereka yang bercakap bukan bukan pasal kita. Ada je tak kena. Siap buat status lagi. Dengki barangkali. Kita manusia tak dapat puaskan hati semua orang. Kita cari bahagia kita sendiri, janji tak kacau hidup sesiapa. Menulis blog satu terapi juga buat kita melepaskan stress. Biarlah, mereka tak faham. Be happy okay!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap, kak, Insya Allah. Betul menulis blog jadi jalan untuk terapi diri..

      Delete

Post a Comment